[Ulasan] Tokyo Ghoul root A

Kaneki
Kaneki

Kali ini saya akan mengulas musim kedua dari seri animasi Tokyo Ghoul. Dan saya sudah menontonnya hingga episode 11, kalau benar hanya 12 episode, berarti tinggal menunggu saja ditanggal 27 Maret ini.

Oh, iya. Saya tidak akan membicarakan mengenai perbedaan, adegan yang hilang, atau apa pun itu tentang cerita dalam komik jepangnya, ini anime, bukan manga. Ah, maaf, saya emosi karena dapat spoiler.

Cerita

Dimusim pertama Tokyo Ghoul saya pernah mengatakan kalau alur cerita lumayan berat. Mungkin akan saya gunakan lagi kalimat itu, di akar A (√A) ini agak membingungkan, bahkan sangat membingungkan dan membuat saya tidak sadar sudah 11 episode saya tonton. Tapi bingung di sini dalam arti penasaran. Benar, saya masih penasaran dengan maksud tujuan Ken Kaneki, Aogiri, bahkan dengan karakter yang dulunya tidak mencolok seperti Hide.

Dia seperti sedang menyembunyikan suatu rahasia. Apalagi diakhir episode yang benar-benar menjengkelkan, pas banget lagi seru malah bubar. Ah, sial. Saya sampai nangis, iya nangis, biarin alay juga.

Grafis

Wow, visual baru dari karakter Ken Kaneki. Untuk sensor, jelas masih ada, tapi kali ini tidak saya bahas, karena adanya sensor menurut saya bukan kemauan dari pihak pembuat, apalagi “kita” (penikmat).

Entah hanya saya atau memang adegan bertarungnya lebih banyak dibanding musim pertama? Dan entah kenapa saat saya melihat adegan bertarung antara Ghoul dan CCG seperti sedang menonton Bleach, saya tidak memeriksa studio mereka, kelihatannya sama? Apalagi grafis dari karakter Arima, dagunya segitiga.

Baca Juga:  [Ulasan] Aho Girl (Cewek yang Begonya Kebangetan)

Oh―entah kenapa saya suka melihat gedung runtuh, bagaimana, ya … terlihat mengesankan.

Karakter

Setiap karakter dikembangkan dengan cukup bagus. Biasanya saya suka memilah-milah, sampai bilang, “Ah, ini jahat”, “Karakter ini kurang ajar sekali”, dan lain sebagainya. Tapi setelah bilang kayak gitu malah saya rada iba dengan karakternya.

Lebih mudahnya, banyak karakter yang terlihat kurang ajar, tapi ternyata memiliki kilas balik yang memilukan. Saya jadi bingung mau berpihak ke CCG, Aogiri, Burung Hantu, atau Anteiku. Mereka punya sudut pandang sendiri. Oh, mungkin tidak untuk Aogiri, mereka kelompok yang masih belum jelas menurut saya.

Musik

Lagu Pembuka: Munou 「無能」 oleh österreich
Lagu Pembuka: Kisetsu wa Tsugitsugi Shindeiku 「季節は次々死んでいく」 oleh Amazarashi

Jujur saja, saya lebih menyukai lagu penutupnya, hal ini didukung dengan ilustrasi visual yang unik. Dan setiap episode menampilkan visual penutup yang berbeda. Sedangkan lagu pembuka menurut saya cukup lumayan, hanya saja visualisasi yang diberikan menurut saya sedikit membosankan.

Untuk efek suara memang bagus, saya sampai enggak tahu harus bilang apa.

Oh, iya, saya suka suara dari Juuzou Suzuya, agak mengerikan dan menjijikkan. Apalagi suara alay Tsukiyama dengan gaya bahasa Perancis dan Italia miliknya, tingkah lakunya pun membuat saya tertawa.

Kenikmatan Menonton

Jelas menikmati dong, dalam arti membuat penasaran. Iya, apalagi episode 11 ini. Sudah, itu saja.

Baca Juga:  [Ulasan] Zankyou no Terror

Penilaian

Cerita: 8
Grafis: 8
Karakter: 8
Musik: 7
Kenikmatan: 9
Keseluruhan: 8.0/10

Sending
User Review
( votes)

About irzie

Seorang pengulas amatir yang ingin terus meningkatkan kemampuannya. Ada perlu? Kontak saya di twitter @irzie_

View all posts by irzie →

3 Comments on “[Ulasan] Tokyo Ghoul root A”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.